Perahu Peninggalan Syaikhona Kholil Jadi Wisata Unggulan Desa Telaga Biru

  • Whatsapp
Salah satu pengunjung saat melihat Perahu Sarimuna di Desa Telaga Biru, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan. (Foto: Helmi Yahya)

DESA BERGERAK | BANGKALAN – Perahu Sarimuna merupakan peninggalan ulama besar asal Bangkalan, Syaikhona Kholil. Saat ini, perahu tersebut telah disulap menjadi lokasi wisata. Desa Telaga Biru yang sebelumnya dikenal sebagai desa penghasil batik berkualitas, kini berkembang menjadi desa wisata unggulan sebab keberadaan perahu tersebut.

Kepala Desa Telaga Biru M Suhdi menyampaikan, ia beserta warga setempat mendukung agar perahu yang memiliki nilai sejarah tersebut dijaga dan dirawat bersama. “Kami ingin ini jadi ikon desa, dan kami masih berharap berkahnya,” katanya.

Bacaan Lainnya

Desa Telaga Biru yang sejak dulu dikenal sebagai penghasil batik khas Bangkalan, kini sudah mulai luntur dan tidak lagi dikenal. Sebab, pemerintah memberikan label secara merata dan hanya menyebut kecamatan. Padahal dahulunya, batik-batik berkualitas hanya di Desa Telaga biru.

“Dulu kalau ada yang cari batik, pasti ke Telaga biru, tapi sekarang sudah tidak,” paparnya.

Ia menambahkan, saat ini membatik sudah tidak menjadi mata pencaharian utama warga. Padahal dirinya menginginkan desanya menjadi desa wisata edukasi batik.

“Saya kira dulu rencana untuk membuat desa batik bisa terlaksana, tapi nyatanya gagal,” tuturnya.

Pihaknya berupaya mempromosikan kembali desanya dengan memajukan sektor pariwisata desa. Ia meyakini bahwa desanya memiliki potensi di sektor tersebut. “Saya awalnya ragu, tetapi setelah melihat pengelolaan di desa lain, saya jadi tertarik,” ceritanya.

Ia mengungkapkan bahwa sejak dulu, Perahu Sarimuna menjadi perahu yang diyakini memiliki kesakralan dan keunikan. Selain karena memang peninggalan ulama besar, perahu tersebut sering menjadi lokasi perayaan upacara adat di desa seperti Rokat Tase’.

Sehingga untuk melestarikan itu, warga mendukung agar perawatan perahu tetap diprioritaskan. “Dulu ini dipakai Syaikhona Muhammad Kholil untuk menyebarkan Islam antarpulau,” tandasnya.

Oleh sebab itu, ke depan, selain memanfaatkan wisata Pantai Telaga Biru, ia akan membanguin wisata edukasi di lingkungan sekitar pantai dan juga perahu. “Perahu ini akan jadi bukti, bahwa sejarah harus dilindungi,” pungkasnya. (hel/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *